Product Validation: Lives From People Acceptance

Image from Unsplash

If you live for people’s acceptance, you will die from their rejection. — Lecrae

Secara tidak langsung, quotes diatas menjelaskan bahwa kita tidak perlu hidup dengan mengikuti standar orang lain. Kita bahkan tidak perlu berpikir apakah segala perlakuan kita akan diterima oleh orang lain atau tidak. Karena jelas hal itu hanya akan membuat kita lelah. Kita memiliki hak untuk melakukan segala hal yang kita senangi, asalkan hal tersebut tidak mengganggu hak orang lain. Hal sesederhana itulah yang sebenernya membuat kita dapat diterima oleh orang lain.

Tetapi, hal ini tidak berlaku pada product development. Bayangkan jika kita membuat suatu produk yang tidak sesuai dengan keinginan penggunanya. Siapa yang akan menggunakan produk kita? Akan menjadi hal yang sia-sia jika kita mengembangkan suatu produk yang tidak dapat membantu atau menyelesaikan masalah banyak orang. Sehingga, pada artikel ini kita akan membahas mengenai Product Validation.

GIF from GIPHY

The Definition

Seperti yang telah dituliskan oleh Marty Cagan di web svpg.com bahwa product validation

This refers to verifying that the product spec (PRD) is describing a product that you know will be successful, but doing so without actually building out and deploying the product.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa product validation merupakan sebuah proses untuk melakukan validasi apakah suatu produk yang kita buat akan mampu mencapai goals dari product tersebut.

Mulanya, hal ini merupakan hal yang mahal dan sulit untuk dilakukan. Terlebih, untuk produk yang ditargetkan untuk digunakan dalam skala besar. Namun, hampir semua pengembang produk menurunkan biaya untuk melakukan simulasi prototipe efektif. Sehingga, cukup menjadi perhatian untuk tim produk yang tidak melakukan hal ini (product validation). Ini dikarenakan kebanyakan dari pengembang produk merasa sangat percaya diri pada spesifikasi produk mereka yang akhirnya mereka terus maju kedepan dan berharap akan melakukan penyesuaian produk (update) pada saat setelah peluncuran beta testing. Padahal ini merupakan kesalahan terbesar dan paling umum dilakukan oleh pengembang produk.

Untuk itu, kita memerlukan peran seorang product manager disini. Karena product manager memahami betapa pentingnya memvalidasi sebuah ide sebelum berkomitmen untuk membangunnya. Product manager juga bertanggung jawab untuk memastikan agar produk yang dikembangkan mampu membuktikan bahwa produk tersebut adalah unggul berdasarkan spesifikasi yang tertera. Nyatanya, validasi mudah untuk diucapkan tetapi sulit dilakukan.

Gif from GIPHY

Why

Faktanya, ini mungkin menjadi salah satu hal tersulit yang pernah dilakukan dalam product life-cycle, karena jika tidak dilakukan, produk yang dikembangkan memiliki kemungkinan gagal sebesar 90%. Membahayakan sekali bukan?

Terdapat beberapa alasan mengapa kita harus melakukan validasi, antara lain:

  1. Validasi akan membantu kita untuk menghindari masalah paling umum dari semuanya, menghabiskan waktu danuang untuk membanguns esuatu yang tidak diinginkan oleh siapapun. Jika kita pernah menemukan produk yang gagal, kemungkinan besar itu didasari pada gagasan bahwa pengembangnya terlalu merasakan euphoria akibat produknya yang dianggap keren dan menarik, dibanding dianggap dapat menyelesaikan masalah nyata bagi penggunanya.
  2. Validasi juga memaksa kita untuk berhubungan dengan pengguna kita, yang dapat menyelamatkan kita dari rasa sakit mengembangkan produk yang sulit digunakan dan dipahami.
  3. Kita juga dapat segera menyadari ketika kita kita telah mengembangkan produk ang salah tujuan dan mengubahnya ke arah yang lebih cepat tanpa harus berputar kebelakang dan mengembangkannya dari awal kembali.
  4. Validasi juga mambu membantu kita untuk menyempurnakan ide dan mempelajari lebih lanjut tentang pengguna kita.
  5. Terakhir, validasi dapat membantu kita mengetahui apa yang sebenarnya pengguna butuhkan sehingga kita tahu apakah orang-orang akan menggunakan produk kita atau tidak sebelum kita membuatnya.

What Should We Validate?

Kita perlu memiliki pemahaman yang jelas bahwa keputugan pengguna terpisah dan berbeda dari solusi yang dibeli orang dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mengingat hal ini, validasi datang dalam beberapa bentuk, yaitu:

  • Validating market demand
    Melakukan demand validation dapat membantu kita untuk mengetahui berapa total potensi pasar kita, dan berapa banyak pasar yang kita dapat tangkap. Di sini, kita dapat menentukan ukuran pasar yang realistis dimana kita tidak memiliki cukup permintaan untuk produk karena produk yang tidak dapat memecahkan masalah yang cukup besar untuk pasar. Kita perlu memastikan untuk mengasah target pasar tertentu dimana konstituennya memiliki pola perilaku yang serupa. Tidak masalah jika itu kecil asalkan cukup besar dan ada potensi untuk berkembang ke ceruk pasar lain di masa depan. Target spesifik misalnya, jika kita ingin menargetkan ke pecinta musik, tentu akan terlalu luas. Tetapi jika kita menargetkan untuk mahasiswa pecinta musik yang mendengarkan punk rock, itu lebih spesifik.
  • Validating the customer problem/pain point
    Tujuannya disini adalah untuk memastikan bahwa kami menemukan masalah nyata atau pain point yang dihadapi oleh cukup banyak orang, sehingga kita nantinya dapat fokus untuk memecahkan masalah tersebut. Hal semacan ini dapat berdampak besar pada implementasi produk kita, UI produk kita, dan lainnya, yang dapat membantu kita memastikan bahwa produk kita lebih cocok secara alami dengan kehidupan sehari-hari pengguna. Ini dapat membantu kita meminimalkan jumlah pelatihan yang harus kita berikan kepada pengguna setelah produk dibuat karena mereka tidak perlu mempelajari kebiasaan baru untuk menggunakan produk kita, yang mana dapat memperpendek tingkat pengabaian dan meningkatkan kemungkinan pengguna untuk bertahan menggunakannya.
  • Validating the product or solution
    Idealnya, membangun dan memvalidasi harus berjalan seiring dan menjadi proses yang berulang, dengan sejumlah pembelajaran yang divalidasi di sepanjang pengembangan. Ini adalah langkah terakhir dan datang setelah validating demand dan validating the problem. Ini melibatkan pertanyan mengenai “apakah produk ini benar-benar dapat menyelesaikan masalah di pasar yang telah diidentifikasi?” Validasi produk lebih rumit dan harus melakukan iterasi. Kira-kira, iterasi yang akan terjadi adalah seperti ini:
Image from Mind The Product
Gif from GIPHY

Benefits

Dengan melakukan product validation, kita dapat mendapatkan beberapa benefits, yaitu:

  • Saving time and money
  • Risk-free product development
  • Accelerated delivery
  • The fastest way to test your assumptions
  • Brand awareness
  • Validation is your reality check

Conclusions

Jika kita menggunakan validasi dengan cara yang benar (pada setiap langkah di product life-cycle) secara otomatis pengguna kita akan mengarahkan kita kepada “tambang emas”, yang artinya pengguna dapat memberi tahu kita hampir semua yang perlu kita ketahui dalam membuat produk yang sukses.

Thanks For Reading!

Follow my medium for more articles.

Also, if you want to browse other content, here are my Social Media😁:

Linkedin

YouTube

Instagram

References

--

--

--

Usualize the Unusualize

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Akbar Rafsanjhani

Akbar Rafsanjhani

Usualize the Unusualize

More from Medium

Decorating Trends for 2022

A Framework for Conscious Living: 5 Tips for Living in the Present

4 Tips for Setting Clear Goals & Intentions for your Business

women’s business retreat

Limitless Knowledge — Translation