Team Dynamics: Happy Team, Can Be Fun!

Image from Unsplash

Seringkali kita mendapatkan tugas atau pekerjaan yang perlu melibatkan banyak orang dalam mencapai suatu tujuan. Sudah jarang sekali pekerjaan yang hanya mengandalkan tenaga satu orang. Bahkan, sekalipun kita memiliki usaha pribadi (misal online shop), tidak menutup kemungkinan kita untuk menjalin kerjasama dengan orang lain. Untuk contoh dekatnya, dalam pengerjaan proyek perangkat lunak (PPL). Seperti yang kita ketahui, pengerjaan kelompok ini mampu memudahkan kita dalam mengerjakan pekerjaan besar, mengingat pekerjaan ini dilakukan bersama. Namun, ketidaksamaan isi kepala dari setiap individu pada tim dapat memungkinkan ketidakselarasan visi didalamnya. Hal demikian lah yang menyebabkan kita perlu memahami mengenai Team Dynamics.

GIF, from GIPHY

The Definition

Menurut rallybright.com, team dynamics didefinisikan sebagai,

Team dynamics describes the behavioral relationships between the members of a group. The dynamic between them includes how they interact, communicate and cooperate with one another. How well your team is able to do these things directly influences what it can accomplish.

Sehingga, dapat kita simpulkan bahwa team dynamic merupakan sebuah hubungan perilaku antara anggota kelompok dalam berinteraksi, berkomunikasi, serta bekerja sama dalam bekerja dalam mencapai tujuan tim. Team dynamics secara tidak langsung menuntut kita dalam menjaga kenyamanan dalam tim.

Kenyamanan dapat diciptakan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor yang cukup mempengaruhi adalah mental kita. Seperti yang telah dijelaskan di pijarpsikologi.org bahwa “segala macam hal yang ada di tempat kerja dapat menjadi pemicu stres yang berakibat terganggunnya kesehatan mental pekerja.” Artinya, ketika seseorang sedang dalam kondisi tidak sehat mental, maka kenyamanan akan sulit diciptakan.

The Steps

Seorang psikologis bernama Bruce Tuckman mengatakan bahwa team development dapat dicapai melalui 5 stages of development, yaitu:

  • Forming
    Forming stage merupakan tahap permulaan suatu tim dibentuk. Setiap anggota melakukan perkenalan dan tentu masih dalam suasana yang cenderung kaku dan belum akrab. Di tahap awal ini tim akan merasa excited untuk memulai sesuatu yang baru dan ingin mencari tahu teman-teman tim lainnya. Beberapa hal yang akan didiskusikan pada tahap ini adalah: kemampuan dari setiap anggota tim (background and interests), project goals, timeline, ground rules, dan individual roles.
  • Storming
    Pada storming stage inilah akan timbul konflik serta kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Terlebih, pada stage ini mulai ada kejelasan dalam pembagian kerja. Ditahap inilah setiap anggota tim mulai menunjukan siapa dia sebenarnya. Stage ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan performa bekerja, karena personality clash sangat rentan terjadi.
  • Norming
    Pada norming stage, anggota tim mulai menyadari dan menghargai kekuatan dari tiap anggota. Tim mulai menetap pada alur proses. Setiap anggota akan berusaha untuk berkontribusi dan bekerja sebagai satu kesatuan yang kohesif. Namun, terdapat hal yang harus diperhatikan ketika tim tidak berhasil melalui stage sebelumnya, maka stage tersebut akan terus berlanjut hingga konflik menemukan solusi.
  • Performing
    Sesuai dengan namanya, pada stage ini masing-masing anggota tim mulai beradaptasi dan kembali merasakan spirit-nya seperti pada forming stage. Setiap anggota tim mulai nyaman, termotivasi, serta familiar dengan tim yang sama-sama mengerjakan proyek tersebut walaupun tidak dipantau supervisor (misalnya oleh scrum master). Keselarasan visi dari tiap anggota tim mulai timbul dan mulai bekerja secara optimal demi mencapai tujuan akhir.
  • Adjourning
    Sebagian besar dari tujuan tim akan tercapai pada adjourning stage. Stage ini juga dikenal dengan istilah mourning (semacam perkabungan), karena pada tahap ini tim akan dibubarkan, setelah berhasil menyelaraskan visi, menguatkan internal, dan berkembang pada saat melakukan pengerjaan proyek. Sehingga petualangan tim berakhir pada adjourning stage.

Why Team Dynamics?

Synchronizing Team

Dalam melakukan pengerjaan proyek, tim yang telah dibentuk sangat diharapkan mampu untuk melakukan sinkronisasi satu sama lain secara alami. Akan tetapi, tim yang terbentuk dari orang-orang yang memiliki talenta tinggi bukan berarti memudahkan mereka berbaur dan memiliki visi yang sama selama masa pengerjaan. Berharap demikian saja sebenarnya salah, mengingat setiap orang pasti memiliki pandangan yang berbeda. Dengan menerapkan Tuckman’s development process pada pengerjaan proyek, dapat meningkatkan kemungkinan suatu tim untuk mencapai project goals.

Human Behavior

Aspek yang cukup penting dalam team dynamics adalah human behavior, yang mana hal ini sulit untuk diprediksi dan dikontrol. Dengan strategi team development yang tepat, kita dapat mempengaruhi sikap dan interaksi dalam tim kita. Mengingat bahwa tidak ada tim yang terbentuk sempurna, tetapi potensi untuk berkembang lebih baik akan selalu ada.

Servant Leader

Captain America, from GIPHY

Servant leader adalah cara kepemimpinan yang didasari oleh keinginan untuk melayani dan memberi terhadap tim maupun komunitas. Servant leader memiliki ciri khas yaitu dengan mengutamakan kebutuhan orang lain. Hal ini memungkinkan kita untuk memberdayakan orang dalam melakukan yang terbaik. Ketika anggota tim melihat semangat dan komitmen yang kita berikan dengan perlakuan kita, secara tidak langsung mereka akan merasa nyaman dan ingin terhubung dengan kita.

Background

Diawali oleh Robert Greenleaf yang menciptakan teori servant leader pada tahun 1970 pada usia 66 tahun. Terdapat 10 ciri atau prinsip dari servant leader. Prinsip-prinsip ini cukup penting untuk dikembangkan oleh seorang servant leader untuk empower orang-orang yang dipimpinnya, yaitu:

  • Listening
    Listening merupakan prinsip yang paling penting untuk diterapkan dalam servant leadership. Seorang servant leader harus fokus untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yaitu dengan benar-benar mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik dengan orang lain, sehingga kita dapat memproses apa yang dikatakan dan kemudian menerapkannya.
  • Empathy
    Prinsip ini mampu membangun kepercayaan dan membiarkan orang lain tau bahwa kita benar-benar peduli dengan mereka. Untuk menerapkan empati kepada anggota tim kita, dapat dilakukan dengan memberi tau bahwa kita berjalan bersama tidak ada yang merasa unggul dan diunggulkan. Sehingga hal ini juga dapat menumbuhkan respect antar anggota tim.
  • Awareness
    Prinsip ini adalah mengenai seberapa peduli kita dengan apa yang terjadi di sekitar kita, khususnya dalam anggota tim. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kita juga harus mengetahui posisi kita sebagai seorang servant leader yang baik; memahami diri sendiri, serta mengetahui value apa yang akan diri kita bawa.
  • Persuasion
    Persuasion yang dimaksud bukan tentang meyakini seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, tetapi mengenai bagaimana membuat anggota tim mampu melihat tindakan yang kita lakukan dan dinilai oleh indra intuitif dari anggota tim itu sendiri. Kita tidak dapat membujuk seseorang untuk mengikuti apa yang kita inginkan tanpa memahami motivasi dan keinginan anggota tim. Prinsip ini akan mudah diantarkan ketika kita mampu menerapkan prinsip empathy.
  • Conceptualization
    Sebagai seorang pemimpin, kita perlu memiliki visi dan memahami team goals, kemana arah tujuan dari tim? Kita sebagai servant leader mungkin memiliki visi jangka panjang, tetapi kita perlu mempresentasikannya kepada anggota tim dengan proses penerapan 5 prinsip diatas. Jika tidak, kita akan kesulitan membangun konseptualisasi.
  • Foresight
    Erat hubungannya dengan konseptualisasi, foresight adalah mengenai bagaimana kita membuat mapping dan timeline untuk menuju goals. Untuk memiliki foresight, kita harus selalu memproses informasi dan perubahan ekspektasi, kemudian memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan jelas tentang bagaimana hal itu mempengaruhi proyeksi kita.
  • Stewardship
    Prinsip ini merupakan komponen kunci, karena berfokus pada kepercayaan yang telah dikembangkan sebagai base dari tim. Sehingga, setiap anggota tim harus berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk melayani kebutuhan orang lain, sebenarnya bukan karena suatu keharusan, melainkan karena mereka memiliki rasa untuk saling membantu dalam tim.
  • Commitment to The Growth of Others
    True leadership bukan hanya tentang bertanggung jawab dalam waktu tertentu. Maksudnya adalah, kita sebagai pemimpin harus mempersiapkan mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang telah kita peroleh selama berjalan bersama dengan tim. Sehingga setiap anggota tim yang selanjutnya berjalan masing-masing tidak akan kehilangan arah, karena telah dibekali dari pempimpin dan tim yang sebelumnya telah berjalan.
  • Building Communities
    Pada prinsip terakhir ini, a good servant leader adalah yang mampu membangun koneksi di dalam tim. Servant leader bukan lah sebagai fokus utama pada suatu tim, tetapi rekan tim lah yang dijadikan fokus untuk memiliki ikatan yang lebih kuat dan mampu menjangkau lebih jauh sehingga kita akan menciptakan koneksi yang seolah-olah mengelilingi kita. Dasarnya, koneksi yang kita ciptakan akan mampu mendorong empati di antaranya, tidak hanya mengalir antara kita dan anggota tim kita saja.

The Implementation

Dalam membangun tim, kami selalu berusaha untuk menjaga suasana yang komunikatif dan kooperatif agar tetap memiliki visi yang sejalan, terstruktur, serta produktivitas yang mumpuni. Implementasi dari team dynamics mampu memberikan manfaat yang baik bagi kelompok kami, dimana kami dapat bertemu secara daring tidak hanya untuk membahas mengenai proyek yang dikerjakan, tetapi bisa juga untuk sekadar melepas penat. Komunikasi ini secara tidak langsung mampu menumbuhkan kekuatan internal kami. Kami biasa melakukan komunikasi ini melalui online conference platform, yaitu menggunakan Google Meets, yang akhirnya kami bermigrasi menggunakan Discord, dengan alasan platform Discord ini dirasa lebih personal untuk kami karena kami dapat membangun call channel dan chat channel sesuai dengan kebutuhan kami. Berikut tampilan dari discord channel kelompok kami.

Gerobak Discord Channel

Slogan

Kelompok kami memiliki slogan “buru buru amat” yang berarti bahwa segala permintaan yang diberikan melalui setiap sprint planning akan segera kami selesaikan demi mencapai kepuasan client. Slogan ini juga yang memberikan kami spirit untuk mengerjakan proyek sebaik-baiknya, agar proyek yang dihasilkan adalah maksimal dan kami memiliki pengetahuan-pengetahuan baru selama masa pengerjaan.

Team Capacity Building

Team capacity building adalah proses dimana individu atau organisasi memperoleh, meningkatkan, dan mempertahankan keterampilan, pengetahuan, dan sumber daya lain yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan secara kompeten. Hal ini memungkinkan individu dan organisasi untuk tampil pada kapasistas yang lebih besar.

Adapun poin utama dalam team capacity building, yaitu:

  • Knowledge
    Proyek yang kita kerjakan cukup membukadan mengantarkan kami kepada proses pengerjaan proyek sesungguhnya. Misalnya, kami dapat memahami bagaimana workflow yang ada ketika mengerjakan fitur, kompleksitas aplikasi dengan daftar fitur-fitur yang dibutuhkan, dan bagaimana tetap profesional selama pengerjaan proyek berlangsung. Bisa dikatakan, knowledge baru ini merupakan soft-skills yang dapat digunakan nantinya ketika akan terjun kedalam dunia profesional. Kami sangat senang dengan adanya mata kuliah PPL karena selain kami diberikan pengalaman untuk bekerja dalam suatu proyek, kami juga difasilitasi untuk belajar bersama profesional lainnya mengenai hal-hal non teknis, salah satunya adalah agile software development.
  • Skills
    Pada proyek ini, kami melakukan pengembangan aplikasi berbasis mobile dengan framework flutter dan bahasa pemrograman dart. Sebelumnya, kami sama sekali belum pernah mengenal dan menggunakannya. Tetapi, dengan adanya proyek ini, kami berhasil eksplorasi dan mempelajari hal baru tersebut sehingga kami dapat menggunakannya dalam pengerjaan proyek ini. Selain itu, kami akhirnya juga mempelajari bagaimana membuat CI/CD script from scratch, Sonarqube, serta penggunaan Git-Flow. Proyek perangkat lunak sangat memberikan kami segudang manfaat.
  • Tools
    Tentu saja terdapat tools yang mendukung kami dalam proses mengembangkan skill dan knowledge. Misalnya, kami jadi cukup mengeksplorasi tentang bagaimana menggunakan Figma yang belum semua dari kami terbiasa menggunakannya, karena aplikasi tersebut biasanya digunakan oleh seorang UI maupun UX designer. Kami juga akhirnya dapat mengeksplorasi IDE dengan meng-install extensions yang diperlukan untuk memudahkan pengerjaan proyek, serta beberapa tools lainnya.

Thanks For Reading!

Follow my medium for more articles.

Also, if you want to browse other content, here are my Social Media😁:

Linkedin

YouTube

Instagram

References:

Usualize the Unusualize

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Akbar Rafsanjhani

Akbar Rafsanjhani

Usualize the Unusualize

More from Medium

The Marvel Cinematic Universe & Agile’s Highest Priority

Working at Amazon Halo: An SDE’s Perspective

What aspects of my pre-programming life are now helping me become a better developer

Agile Anti-Pattern: The Knowledge Silo